OPINI

Pesona Pantai di Wilayah Utara Jepara Sebentar Lagi Tinggal Kenangan

Jepara, MediaKontroversi. Co. Id


Tulisan ini adalah karya bangsa yang peduli kepada eksotis alam laut Jepara dan peduli lingkungan serta masyarakat yang peduli dengan perjuangan generasi yang akan datang.

Seperti sebuah pesan lagu perjuangan yang diciptakan penuh penghayatan atas ritual kondisi sosial saat itu ” INDONESIA TANAH PUSAKA “, sampai sekarang masih tetap abadi makna dan kalimat pesan sakti kepada para generasi penerus negeri. Setidaknya apa yang terjadi di Jepara Jawa Tengah saat ini tentang rencana penambangan pasir laut di perairan laut jepara, bisa menjadi pengingat masyarakat akan sejarah beberapa pengusaha yang berusaha masuk sebagai penambang pasir besi di wilayah jepara.

Berdasar dari kajian oleh Guru Besar Fakultas Hukum Unnisula (Suroto) tentang Dampak Penambangan Pasir Besi Di Jepara (ISSN.2614-56OX) dengan metode :Studi Kasus

Wawancara serta observasi

Pelacakan Dokumen Literatur Pendukung
bahwa wilayah Jepara yang terdapat lokasi pasir besi adalah :

Desa Balong, Kec.Kembang

Desa Bumiharjo, Kec. Keling

Desa Bandungharjo, Desa Banyumanis dan Desa Ujung Watu Kec.Donorojo
dengan data kajian tersebut sudah sangat jelas bahwa potensi dan kekayaan mineral di pesisir pantai utara Jepara sangat melimpah luar biasa, itulah kenapa dari tahun 2010 sampai sekarang banyak perusahaan dan investor-investor berusaha masuk untuk melakukan penambangan di wilayah terseubt

.Perusahaan PT penambang diantaranya :

PT. Pasir Rantai Mas, yang memiliki ijin tambang seluas 200 Ha di Desa Balong dan Desa Bumiharjo

CV. Guci Mas Nusantara, memiliki ijin tambang seluas 14 Ha. Maret 2012 dihentikan warga

PT. Alam Mineral Lestari, memiliki ijin penambangan seluas 200 Ha di wilayah Kec. Donorojo, Ijin berlaku sampai April 2022 atas nama Seno Hanawi/Prasojo Budiman alias Jojo.

Serta PT Penambang yang terbaru mengajukan ijin AMDAL adalah PT. Energi Alam Lestari dan PT. Bumi Tambang Indonesia yang memiliki total luas ijin penambangan 3.339 Ha di wilayah Kec. Kembang.

Dari studi kasus dan kajian dari observasi dan penelusuran data oleh Tim Pengkajian Koalisi Kawal Indonesia Lestari (KAWALI) DPD Kab. Jepara hampir bisa dipastikan rencana penambangan pasir laut di wilayah perairan Jepara (Kec.Kembang) mempunyai tujuan bisnis profit terselubung, jadi isu untuk pengurugan proyek nasional jalan tol Semarang – Demak adalah tidak benar adanya.

Melalui observasi bisa dilihat, bahwa rencana lokasi penambangan pasir adalah lokasi yang menurut data kajian Kementerian Lingkungan Hidup mengandung 74% pasir besi bahkan bisa mencapai 85%, itu artinya pasir yang didapatkan akan lebih memiliki nilai ekonomis dibandingkan hanya sekedar sebagai urug proyek jalan tol.

Kemudian dilihat dari dampak lingkungan, selain akan berkurangnya lahan pertanian tentu akan terjadi abrasi yang semakin parah di pesisir pantai utara dan rusaknya terumbu karang serta habitat laut di lokasi penambangan yang pengembalian bathimetrinya tentu memerlukan waktu yang cukup lama.

Selain dampak lingkungan, dampak sosial dan ekonomi sudah sangat jelas nyata dirasakan, masyarakat akan selalu terpecah menjadi 2 kubu yang berlawanan (pro dan kontra) padahal kelestarian, penegakan aturan dan kepentingan masyarakat harus menjadi prioritas utama untuk diperhatikan.

Kesimpulan yang dapat diambil dari studi kasus tersebut antara lain:

Penolakan yang dilakukan masyarakat dengan adanya penambangan pasir besi di wilayahnya,
karena akan sangat merugikan dari segi dampak lingkungan, saat ini diwilayah tersebut sedang dirintis cagar wisata, terdapat lahan pertanian dan petilasan Syec Siti Jenar yang disakralkan masyarakat.

Pihak perusahaan penambang dalam melaksanakan sosialisasi tidak transparan, tidak merata dan menyentuh
semua lini masyarakat sehingga terjadi penolakan terhadap aktifitas penambangan yang akan
dilakukan.

Walaupun pihak pengusaha telah memiliki ijin, namun apabila pemkab jepara, warga sekitar (pemilik lahan) tidak
menyetujui, maka penambangan tidak dapat dilakukan.

Dari tulisan kajian diatas, DPD KAWALI JEPARA mencoba memberikan edukasi dan mengajak masyarakat Jepara untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dan potensi alam, khususnya DLH Pemkab Jepara harus benar-benar serius dalam pengelolaan potensi alam Jepara.

Jangan sampai yang melakukan pengkajian dan mengexploitasi kekayaan alam Jepara justru dari luar, sementara kita sebagai tuan rumah hanya sebagai penonton tanpa pernah melakukan penilitian,pengkajian serta pengelolaan kekayaan alam kita sendiri secara benar dan serius yang bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Jepara secara nyata dan merata.

Pemkab Jepara jangan hanya karena CSR dan dalih peningkatan PAD kemudian berspekulasi dan bekerja sama yang berdampak kerusakan lingkungan dengan alasan apapun dengan berbagai cara, keserakahan merajalela hingga tiada yang tersisa selain penderitaan yang akan dialami oleh anak cucu kita sebagai penghuni bumi selanjutnya.

Di saat sumber daya alam yang terakhir sudah dihabiskan manusia, barulah kita akan menyadari betapa berharganya tanah, air dan udara.

Menjaga kelestariaan bumi adalah tugas kita, karena tidak ada bumi kedua, Adanya adalah Planet lainnya. @Red/Iskandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button