EDUKASI

ETIKA JURNALISTIK

Catatan Pinggir bang – Zt.20

Media Kontroversi – “etika jurnalistik” adalah nilai atau norma yang menjadi pedoman bagi para wartawan (reporter, redaktur, lay-outer) dalam beraktifitas. Intinya pedoman untuk “benar”

“etika jurnalistik” merupakan ‘aturan main’ yang dibuat sendiri oleh para wartawan—melalui suatu organisasi profesi—dan media massa untuk menjaga wartawan dan media massa tetap berjalan sesuai fungsinya.

Fungsi itu adalah fungsi sosial berupa tanggung jawab terhadap perkembangan kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih baik, bermutu dan berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan melalui karya- karya jurnalistiknya

Kebebasan pers, bukan berarti memberi kesempatan kepada wartawan dan media massa untuk melakukan tindakan sewenang-wenang dalam proses jurnalistik. Namun, kebebasan pers berupa kebebasan untuk melakukan proses jurnalistik secara leluasa demi penyajian fakta yang akurat melalui pemberitaan.

Dalam etika jurnalistik, dikenal istilah etika profesional kewartawanan dan etika media massa. Prinsipnya, keduanya sama, yakni landasan moral bagi proses jurnalistik. Perbedaannya hanya terletak pada lembaga yang membuat. Etika profesional umumnya dibuat oleh organisasi kewartawanan Sedang etika media massa dibuat oleh lembaga medianya.

Untuk apa etika?

Media massa punya pengaruh, bisa membentuk opini publik, dan itu bisa baik dan juga bisa buruk. Pengaruh buruknya dapat merugikan pembaca dengan memberikan informasi yang salah.

Etika diperlukan untuk menjamin bahwa berita diliput dan disampaikan dengan cara yang benar. Artinya, tidak menipu pembaca maupun sumber berita. Etika mengatur tata cara wartawan baik saat melakukan liputan, sampai menuliskannya menjadi berita.

Pedoman etika yang harus diperhatikan:

1. Mengaku sebagai wartawan
Jangan menyamar atau berpura-pura. Narasumber harus diberi kesempatan untuk tahu bahwa dia sedang berbicara dengan seorang wartawan. Reaksi orang akan berbeda saat tahu bahwa dia menghadapi wartawan.

BACA JUGA   RUU OMNIBUS LAW, "Mounter Menakutkan"

2. Melindungi narasumber rahasia
Ada kemungkinan seorang narasumber kunci mau memberikan informasi, tapi tidak mau disebutkan identitasnya. Mungkin dia takut, sungkan atau demi keamanan. Tapi sebelum memberi jaminan kerahasiaan, wartawan harus berusaha untuk diijinkan menyebut identitas narasumber.

3. Mencari narasumber yang benar-benar cocok
Pilih narasumber yang benar-benar sesuai dengan tema berita. Bila kita salah memilih narasumber maka informasi yang kita dapatkan kemungkinan akan melenceng dari yang sebenarnya.

4. Tidak menerima suap, hadiah, atau fasilitas lain dari narasumber
Bagaimanapun juga seorang wartawan yang telah ‘diberi sesuatu’ oleh narasumber, akan cenderung berpihak kepada pihak pemberi. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi isi berita yang ditulis oleh si wartawan.

5. Memperhatikan keakuratan data
Jangan percaya begitu saja dengan informasi yang datang dari satu pihak. Setiap informasi harus di cek kebenarannya. Dalam menyebut nama, istilah, angka, kita juga teliti.

6. Memberi kesempatan klarifikasi
Jika memberitakan tuduhan pada seseorang, wartawan harus memberi kesempatan kepada tertuduh untuk membela diri (klarifikasi)

7. Melaporkan secara berimbang.
Kalau ada dua informasi atau pendapat yang bertentangan, harus ditulis secara seimbang. Pembaca harus diberi tahu bahwa ada beberapa cara pandang yang berbeda.

8. Membedakan dengan tegas fakta dan pendapat pribadi
Fakta sering bercampur baur dengan pendapat pribadi. Tugas wartawan adalah memisahkannya sehingga menjadi jelas batas antara informasi yang sebenarnya (fakta) dengan pendapat pribadi, bukan justru mengaburkannya.

9. Menggunakan bahasa dengan tepat
Jangan menipu pembaca dengan memilih bahasa yang menipu atau mengarahkan. Misalnya, judul berita tidak sesuai dengan isinya. Hindari memakai kata-kata yang mengarahkan opini, seperti ‘diduga keras’ atau ‘disinyalir’. Harus ada sumber berita yang ‘menduga keras’ atau ‘mensinyalir’ sesuatu. Juga harus ada bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut.

BACA JUGA   PERS, WARTAWAN DAN JURNALISTIK

10. Jangan menyembunyikan fakta
Karena tidak sesuai kepentingannya, bisa jadi seorang wartawan akan menyembunyikan informasi tertentu. Tindakan ini tergolong jenis pelanggaran etika jurnalistik yang tergolong berat.

Konsekuensi bagi media atau wartawan yang bersangkutan, melanggar etika berarti kehilangan kepercayaan, baik dari pembaca maupun narasumber.(-zt.20)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button