OPINI

Fintech Tangguh disaat Pandemi Covi19

Tangsel Mediakontroversi. Co. Id

Fintech adalah kepanjangan dari Financial Technology dimana pelayanan Fintech ini berbasis teknologi digital modern dalam memberikan jasa pelayanan di bidang keuangan sangat tepat saat Pandemi Covid 19 ini orang-orang di anjurkan untuk stay at home and Work From Home melakukan transaksi di dalam rumah menggunakan smartphone mulai dari membayar listrik, air, BPJS, Pajak, PBB, membeli produk/jasa lewat online, transfer dana, pinjaman online, pengumpulan dana untuk galangan sosial, dan pengelolaan asset menjadi suatu kebutuhan yang mendasar saat ini karena di bandingkan harus keluar rumah menggunakan ATM, teller Bankdan pusat perbelanjaan yang ramai dan penuh antrian Secara tidak langsung Fintech juga ikut serta mengurangi frekuensi untuk keluar rumah karena Pandemi Covid 19 ini .

Keunggulan Fintech saat Pandemi Covid 19 ini adalah lahan segar yang memungkinkan investor menanamkan sahamnya memungkinan mendapat keuntungan yang tinggi karena kebutuhan yang tinggi akan Fintech. Karena menurut sumber dari OJK sebaran Akumulasi Transaksi Borrower yang ada di Indonesia sebesar 213.669.611 sedangkan Akumulasi rekening Lender 705.643 sehingga rasio yang ada saat ini 1 : 302 memungkinkan kesempatan emas bermain investasi di dunia Fintech.

Menurut BI sendiri Fintech terdiri dari 4 Jenis yaitu : 1. P2P (Peer to Peer), 2. Manajemen Risiko Investasi, 3.Payment, Clearing dan Settlement, 4.Market Aggregator, agar pengguna Finteh merasakan kemudahan, kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi maka ini di atur BI dalam Regulasi perihal penyelenggaraan layanan keuangan Digital menurut Surat Edaran Bank Indonesia No 18/22/DKSP yaitu dalam rangka perluasan ekosistem Layanan Keuangan Digital (LKD)serta kebutuhan penyaluran bantuan sosial secara non tunai untuk mendukung keuangan inklusif dan sebagai upaya mendorong peningkatan transaksinon tunai, perlu diatur ketentuan pelaksanaan mengenai penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital (LKD) atau yang biasa kita kenal Fintech.

Menurut Bryan Zhang, Co- Founder dan Executive Director Cambridge Center for Alternative Finance mengungkapkan studi dimana secara geografis, serta kawasan dengan pertumbuhan transaksi tertinggi adalah Timur Tengah dan Afrika Utara dengan perolehan 40%, Amerika Utara 21% dan Afrika Sub- Sahara 21% Hasil tersebut kontras dengan pertumbuhan transaksi sebesar 13% di Amerika Latin Bahkan studi tersebut mengartikan bahwa pertumbuhan nya lebih lamban di Kawasan Eropa dan Asia Pasifik maka Bryan, mengemukakan “bahwa sebagian besar Industri Fintech Global Tangguh dalam menghadapai pandemi Covid 19, Meskipun demikian hasil tersebut dapat di interpretasikan dalam konteks ketidakseimbangan dalam pertumbuhannya dan peluang industri harus disandingkan dengan tantangan yang di hadapinya”
Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, Fintech merupakan pendatang baru di sektor keuangan tapi akan memberikan dan membuka lapangan kerja.

Fintech ini sementara pada saat yang sama melindungi konsumen dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Sri Mulyani dalam video virtual, Kamis (18/11/2020)
Menurut Anggota Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc) sekaligus Founder CORE Indonesia, Hendri Saparini, pandemi mendorong akselerasi di sektor digital ekonomi.

Pemanfaatan fintech mempercepat adopsi digital dan inklusi keuangan berkiblat pada surat edaran BI yang telah di paparkan di atas.

“Ini menjadi timing yang sangat tepat. Akhirnya, kita semua belajar dengan cepat, karena berpacu dengan perubahan kondisi luar biasa,” paparnya, dalam press briefing Indonesia Fintech Society (IFSoc) secara virtual, Selasa, 29 Desember 2020.

Akankah Fintech tetap tangguh di tahun baru di tahun 2021 ini ?, solusi nya para startup Fintech harus meningkatkan performa dalam kualitas pelayanan jasa keuangan, sehingga konsumen yang menggunakan jasa Fintech menjadi loyalitas karena kemudahan, keamanan dan menjaga kerahasian data konsumen agar informasi yang bersifat rahasia dapat terjaga dengan baik dengan sistem perlindungan yang ketat agar konsumen merasa terlindungi di bawah naungan OJK dan begitupun konsumen Fintech juga harus pintar dalam memilih Fintech yang telah di lindungi dan terdaftar di OJK dengan update informasi apakah Fintech tersebut telah berizin atau tidak agar dikemudian hari OJK pun ikut turun tangan jika ada masalah yang di hadapi akan datang.

Sehingga tentukan pilihan jasa Fintech sebijak mungkin untuk para konsumen.@@Nurwita, S.E., M.M Dosen Fakultas Ekonomi Prodi manajemen Universitas Pamulang

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button