SERBA SERBI

MANAJEMEN WAKTU SHIFT KERJA SAAT COVID-19

Media Kontroversi – Sejak dunia dilanda wabah COVID-19 sejak akhir Desember 2019 hingga bulan Mei 2020, World Health Organization (WHO) dan pemerintah Indonesia sudah hamper 3 bulan ini mengeluarkan himbauan untuk bekerja di rumah (work from home) dan menetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dikarenakan pendemi virus COVID-19 yang terus meningkat setiap bulannya. Dengan penetapan bekerja dari rumah atau yang sering dikenal dengan WFH yang tidak asing lagi ditelinga dunia menjadi tantangan bagi setiap individu, para ahli psikologi pun menyebutkan dengan adanya WFH menimbulkan terjadinya “burnout” atau berubahnya kebiasaan dan dipaksa untuk mampu beradaptasi dengan situasi baru, yang dapat menimbulkan stress kerja.
Dari permasalahan-permasalahan masyarakat yang ada belum terbiasa WFH, sistem pembelajaran dan meeting secara daring pun menjadi keterbatasannya signal disetiap wilayah, fasilitas yang kurang mumpuni untuk belajar dan bekerja dari rumah, untuk masyarakat yang tinggal ditempat yang mudah mengakses signal dan bagi yang sulit mengakses signal ini menjadi penghambat pembelajaran dan dapat menurunkan semangat belajar turun dan menyebabkan stress yang dikarnakan tidak dapat belajar dan bekerja secara maksimal. Selain daring, shift kerja atau waktu kerja yang tidak beraturan dapat menyebabkan insomnia bagi setiap individu, paparan layar biru terus menerus juga dapat mengganggu tidur bahkan mental setiap orang, peran orang tua dan anak yang sama-sama bekerja dan sekolah dari rumah membuat orang tua kesulitan dalam konsentrasi kerja.
WFH memiliki pengaruh banyak sekali terutama untuk orang-orang yang belum pernah melaksanakan kegiatan tersebut sebelumnya, sehingga menyebabkan stress terhadap individu, jika stress tidak dapat dikelola dengan baik dapat menyebabkan turunnya kesehatan dan mental seseorang. Jika dikatakan setiap orang apakah sudah siap menerima kenyataan WFH yang dikabarkan secara mendadak ini? tentu belum siap menerima hal tersebut, tetapi hukum alam tidak bisa dicegah.
Namun bagaimana cara efektif merubah kebiasaan ini? Pertanyaan tersebut sering dilontarkan oleh para pekerja yang harus menerima kenyataan. Hanya diri kita sendirilah yang dapat merubahnya dengan beberapa pola kebiasaan yang harus diubah, cobalah tidur lebih teratur dengan tidur maksimal 7 jam perhari tidak tidur diatas jam 10 malam, bangun di pagi hari dan bukalah jendela rumah agar udara segar masuk ke dalam ruangan, dengarkan kicauan burung di pagi hari, luangkanlah waktu berjalan kaki singkat ke halaman rumah, menikmati makanan sehat setiap pagi dan pilihlah sudut rumah yang dirasa paling nyaman untuk tempat bekerja, sehingga hal tersebut dapat menciptakan energi positif sebelum anda memulai bekerja dipagi hari.
Setiap orang memiliki manajemen waktu yang sama yaitu dalam sehari 24 jam, tetapi manajemen waktu disetiap kalangan tentu berbeda-beda, ada yang tinggi dan rendah dalam melakukan manajemen waktu tersebut. Mengapa? rendahnya manajemen waktu dikarenakan setiap orang pasti lebih mengerjakan pekerjaan yang ia sukai jika dibandingkan dengan yang ia harus lakukan, hal tersebut menyebabkan pekerjaan menjadi tertunda. Ditambah lagi dengan adanya WFH banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersamaan dengan pekerjaan kantor yang harus dapat terselesaikan, fungsi dari manajemen waktu sangat penting demi mengurangi tingkat stress dalam pergantian cara kerja yang terjadi secara mendadak ini.
Buatlah suatu perencanaan (planning) bersama rekan kerja, jangan putuskan tali silaturahmi dengan rekan kerja dan tetap membuat rencana-rencana kerja bersama rekan kerja anda buat susunan yang akan dicapai setiap minggu nya serta hal tersebut dapat mengasah keterampilan dalam memanajemen waktu dengan cara membuat jadwal kerja dan beri prioritas tugas-tugas mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, sehingga hal tersebut dapat memberikan pengalaman anda lebih produktif dalam bekerja.
Pengorganisasian (organizing) tetap buat koordinasi pekerjaan terhadap rekan kerja yang sudah dibuat pada bagian awal planning menggunakan list perhari apa yang harus dilaksanakan pada hari tersebut dengan rekan kerja, untuk mengetahui report atau hasil yang dicapai pada hari tersebut dengan menentukan jam online yang telah ditentukan bersama, dicontohkan hari senin jam 13:00 – 15:00 secara online hanya untuk mengetahui progress serta kendala yang terjadi. Penggerakan (actuacting) dan pengendalian (controlling) setiap kegiatan lakukan setiap harinya dihari dan jam kerja dengan tidak memasukkan hari libur. Tentu sudah tidak asing lagi bukan, hal tersebut merupakan konsep manajemen yang sering disebutkan oleh para ahli manajemen yaitu planning, organizing, actuacting dan controlling (POAC).
Setelah lelahnya bekerja berikanlah apresiasi pada diri anda dengan waktu malam hari untuk bersama keluarga, beristirahat sejenak dari paparan layar biru dan kurangi akses media sosial hindari berita yang terus menerus memberitakan tentang wabah yang terjadi karena dapat menyebabkan rasa cemas yang berlebih, carilah berita yang akurat dengan sumber yang dapat dipercaya. Ubahlah pola pikir dengan berfikir positif, menerima keadaan bahwa bekerja dari rumah memiliki banyak kendala tetapi semua dapat diselesaikan dengan baik dengan membuat manajemen waktu kerja, sehingga kita dapat cepat beradaptasi dengan kebijakan WFH.
Dengan selogan “kerja dari rumah, bukan di artikan kerja seharian” begitu pula selogan “kerja dari rumah, bukan di artikan libur dalam bekerja”. Dengan bijak memanfaatkan waktu dan tetap produktif bukan menjadi halangan dengan adanya Work From Home (WFH). Terbukti bahwa, manajemen waktu dapat meningkatkan produktifitas bekerja dan manajemen stress, sehingga lebih bersemangat dan efektif dalam bekerja.

Penulis : Syahreen Nurmutia,S.T, M.T
Dosen Universitas Pamulang – Program Studi Teknik Industri

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button