Uncategorized

CORONA.., TAK AKAN MENGHENTIKAN PENGORBANAN ORANGTUA

Oleh : Aidil Amin Effendy, S.E., M.M.
Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang Tangerang Selatan

Media Kontroversi – Di seluruh penjuru dunia terus berupaya dalam mengatasi pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Saat ini, corona telah meluluhlantakkan perekonomian dan aktivitas bisnis di berbagai negara di dunia, termasuk di negeri kita tercinta, Indonesia.
Seluruh elemen masyarakat seperti para pedagang, driver ojek online, dan para pekerja harian pun terkena dampak dengan adanya corona, namun tak sedikit yang masih terus berjuang di tengah keterbatasan sosial. Di antara semua yang berjuang tersebut tak lain adalah orangtua yang masih mempunyai kewajiban dalam menafkahi keluarganya.
Adanya corona, tak akan menghentikan pengorbanan orangtua terhadap anaknya dan kasih sayang orangtua tidak akan sirna di tengah corona. Orangtua terus berjuang dan berkorban dalam menjemput rizki apapun rintangannya namun mereka juga menjadi guru bagi anak-anaknya karena seluruh sekolah ditutup sementara dan digantikan dengan pembelajaran online di rumah masing-masing. Bekerja, merawat, mendidik dan mengajarkan anak, terus mereka lakukan demi kebahagiaan anak-anak tercinta.
Kisah ini seperti pengorbanan seorang ayah bernama Zulkarnain demi memberikan nafkah untuk kedua anak dan istrinya dengan berprofesi sebagai driver ojek online. Di saat para driver ojek online mulai berhenti karena khawatir terkena virus corona, ia terus berjuang demi keluarga tercintanya untuk menjemput rizki dari Sang Maha Pemberi Rizki, Allah Ar Rozzaaq. Saat ditanya oleh penulis, penghasilan dalam satu hari yang didapat saat adanya corona ini, ia menjawab, “kadang dapat satu orderan, kadang dapat dua, tapi mentok cuma dapat dua orderan dalam sehari”.
Tak hanya ayah yang berjuang untuk keluarganya, kisah pengorbanan seorang ibu bernama Yernis sebagai Pedagang pakaian kaki lima yang menangis di hadapan pembawa acara Indonesia Lawyers Club, Karni Ilyas saat menceritakan kisahnya, pada Selasa (14/4/2020) malam di Tv One. Yernis mengutarakan kisahnya sambil menahan tangis, ia bercerita, “Udah sepuluh hari saya di rumah. Namanya saya punya kebutuhan banyak. Anak masih kecil-kecil, Pak. Kami masih butuh biaya, harus nyetor rumah juga, Saya enggak ada lagi pegangan. Daripada kita mati kelaparan dalam rumah begini. Kita nekat jualan ke luar, Pak,” ucapnya sambil membasuh air mata.
Dari dua kisah di atas, hanyalah sebagian kecil kisah pengorbanan orangtua demi anak tercintanya, karena pada hakikatnya kasih sayang orangtua tak akan sirna sampai ajal menjemputnya. Penulis pun mengakui kasih sayang orangtua tak pernah berhenti sampai kapan pun, penulis sangat teringat saat pengorbanan almarhumah ibundanya selama hidupnya. Salah satu pengorbanan Ibunda penulis yaitu terus berdagang keliling dari majelis taklim ke majelis taklim lainnya untuk menjual barang dagangannya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan anak-anaknya. Ibunda yang terus berkorban di usianya yang semakin senja, yang menurutnya agar tidak merepotkan anak-anaknya, adalah sebuah bentuk kasih sayang yang tidak terhingga. Terima kasih bunda, kita akan senantiasa berdoa untuk bunda agar ditempatkan yang terbaik di sisi-Nya.
Ayahanda penulis pun yang saat ini berada di kampung halaman terus memikirkan anak-anaknya meskipun sudah mulai dewasa, ibarat pahlawan yang terus menyelamatkan kondisi anak-anaknya, ayahanda tidak henti-hentinya selalu siap siaga membantu keluh kesah anak-anaknya. Penulis sangat teringat salah satu pengorbanan ayahanda ialah saat penulis sedang kuliah strata 1 (S1), yaitu saat itu penulis tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjuangan kuliahnya di Depok, penulis bertemu ayahanda yang saat itu ayahanda tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, namun beliau dapat berusaha demi anaknya untuk memberikan uang seratus ribu rupiah, yang mungkin saat itu adalah uang satu-satunya yang dimiliki ayahanda namun rela diberikan untuk anak tercintanya, terima kasih Ayah….
Dengan semua pengorbanan ayah dan ibu terhadap anaknya, marilah kita sebagai seorang anak untuk dapat mengimplementasikan isi kandungan Al Qur’an surat Al Isra ayat 23-24. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Q.S. Al Isra: 23).
Dari ayat tersebut, di antara hikmah yang kita harus lakukan mengenai sikap kita terhadap kedua orangtua ialah untuk selalu berbuat baik kepada mereka, tidak boleh mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, tidak boleh membentak dan diperintahkan untuk mengucapkan kepada kedua orangtua dengan perkataan yang mulia.
Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. Al Isra:24).
Adapun hikmah dari ayat 24 di atas ialah kita diminta untuk merendah dan tawadhu sebagai bentuk sayang kepada mereka, serta senantiasa berdoa agar Allah berkenan menyayangi mereka berdua dengan rahmat-Nya, baik semasa mereka masih hidup maupun setelah wafat, sebagaimana mereka dahulu bersabar dalam mendidik kita dari semenjak kecil.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button