EKONOMI

ARTI PENTING MARKETING DI MASA GENTING PANDEMI COVID 19

Oleh: Dr. Udin Ahidin, SE. MM
Dosen Program Studi Manajemen S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Media Kontroversi – Pandangan ekonomi dan bisnis ujung tombak atau sasaran titk bidik dalam bisnis adalah pelanggan (customer). Terlebih menurut pandangan marketing tidak hanya sekedar pelanggan, akan tetapi pelanggan seutuhnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pelanggan seutuhnya yang dimaksud adalah marketing menempatkan pelanggan dan memandang pelanggan dari seluruh aspek kehidupan pelanggan itu sendiri, dari mulai nama, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, gelar (gelar akademik,gelar profesi,gelar keagaman,gelar kebangsawanan, dan gelar-gelar lain yang melekat pada dirinya), jabatan, status sosial, hobi, karir dan pekerjaan, jenis hiburan yg disukai, jenis makanan yang disukai, model rambut yang disukai, model pakaian yang disuki, model rumah yang disukai, desian rumah, isi dan perabotan rumah, desain kamar mandi, desain dapur, desain ruang makan, desain ruang tamu, desain kamar tidur, model kendaraan (sepeda, motor, mobil bahkan pesawat), model sepatu, model sandal, jenis olahraga, jenis hiburan, musik, dan masih banyak lagi aspek-aspek pelanggan yang dipandang utuh oleh marketing.

Intinya marketing memandang dari mulai kebutuhan dapur, kasur, sumur, dan kubur, itu semua merupakan titk sentral yang dibidik dalam marketing. Oleh karena itu dalam masa Pandemi Covid 19 ini menurut pandangan marketing, para pelaku usaha tidak membabi buta memanfaatkan masyarakat sebagai konsumen ketika akan menawarkan produk perusahaan dengan dalih atau memanfaatkan momentum Pandemi Covid 19.

Hal itu akan berdampak pada pandangan dan perilaku di masa yang akan datang terhadap produk perusahaan,bahkan terhadap perusahaan itu sendiri, baik itu masih dalam kondisi Pandemi Covid 19 atau sudah berakhir masa Pandemi Covid 19.

Pada masa Pandemi Covid 19 ini, sudah banyak informasi dari berbagai media terkait dengan pentingnya hidup sehat, dan juga sampai saat ini belum ditemukan secara pasti vaksin atau obat untuk menangkal Virus Corona tersebut. Menurut ilmu kesehatan Virus Corona tidak akan berkembang biak di tubuh manusia yang kondisi imunnya kuat, kondisi kekebalan tubuhnya juga kuat. Untuk membentuk imun dan kekebalan tubuh yang kuat tersebut harus diperbanyak asupan makanan yang mengandung protein dan viatmin C, B, D, E, dan karbohidrat yang cukup.Dari dasar itulah bermunculan produk-produk yang ditawarkan para pelaku usaha yang mengandung protein dan vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia untuk melawan Virus Corona.

BACA JUGA   TREND PRODUK DI MASA PANDEMI COVID 19

Jenis makanan dan minuman yang dominan dimunculkan adalah kandungan yang dibutuhkan untuk peningkatan imun dan kekebalan tubuh. Di sisi lain banyak juga yang menawarkan produk-produk non makanan dan non minuman untuk mendukung dalam pencegahanpenyebaran Virus Corona. Yang menjadi pertanyaan dalam marketing apakah ketika produk itu dibuat berdasarkan kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) serta selera pasar (Pelanggan) ? terutama dibutuhkan oleh segmen pasar yang di bidik perusahaan ?. Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka perlu dipahami secara hakikat arti penting marketing terlebih di masa genting Pandemi Covid 19 ini, semoga dengan memahami secara hakikat dari marketing itu dapat diperluas di masa-masa lain yang normal ketika Pandemi Covid 19 ini sudah berakhir.

Jika kita lihat awal munculnya ilmu marketing di Abad ke-18 masih fokus pada distribusi produk, bahwa marketing adalah menyampaikan produk dari produsen ke konsumen. Definisi ini belum melihat dan menjamah hakikat dari pelanggan yang memiliki kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations). Disini terdapat perasaan, kesukaan, hoby, selera, dan karakterisik lainya yang sangat kompleks belum diperhatikan.Kemudian pada Abad ke-19 mulai bergeser definisi marketing tidak lagi terfokus pada distribusi produk, akan tetapi marketing adalah menyampaikan produk dari produsen ke hati konsumen. Di sini sudah ada perubahan paradigma dalam marketing, yang tadinya hanya sekedar menyampaikan produk dari produsen ke konsumen, produk yang disampaikan belum memperhatikan selera dan kebutuhan konsumen. Dengan adanya perubahan paradigma tersebut sudah mulai marketing itu melihat dan menjamah hakikat dari pelanggan. Jadi yang disampaikan tidak sembarang produk, tapi memang produk itu sudah disesuaikan dengan kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations), yang didalamnyaterdapat selera. Kemudian di awal Abad ke-20 definisi marketing berubah lagi menjadi menyampaikan solusi dari produsen ke hati konsumen. Definisi ini lebih dalam dan spesifik dan menjamah hakikat dari pelanggan.

Jadi yang ditawarkan atau yang dijual oleh perusahaan adalah solusi yang dibutuhkan konsumen atas masalah yang dihadapinya yang tentunya di situ tidak sekedar pemahaaman kebutuhan (needs) saja tapi sudah memperhatikan keinginan (wants), dan harapan (expectations).Sedangkan kebutuhan (needs) merupakan kodrati yang diberikan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dari sejak manusia lahir seperti, lapar, haus, sakit, ngantuk, cape,dan lain-lain, sedangkan keinginan (wants) merupakan pemenuhan kebutuhan yang biasanya dipengaruhi oleh budaya, misalnya; orang Indonesia dan orang Amerika sama-sama memliki rasa lapar (kebutuhan), maka untuk pemenuhan keinginannya dipengaruhi oleh budaya, kalau orang Indonesia lapar tentu pemenuhan keinginannya harus dengan nasi, sedangkan orang Amerika pemenuhan keinginannya tidak dengan nasi tapi dengan roti . Sedangkan pemenuhan harapan merupakan tingkatan lebih tinggi dalam pemenuhan permintaan pelanggan, misalnya; orang Indoneisa kebutuhan lapar, pemenuhan keinginannya dengan nasi, maka harapannya nasinya hangat, lauknya dengan opor ayam.

BACA JUGA   Upaya Pencegahan Covid-19 Di Bengkulu, Penyemprotan Disinfektan Dilakukan

Seiring berjalannya waktu, perubahan iklim dalam berbisnis begitu cepat terutama setelah ada penyertaan mesin dan teknologi. Konsumen semakin pintar dan selektif dalam memilih produk yang ditawarkan pihak perusahaan. Maka redefinisi marketing di Abad ke-21 kalau kita melihat definisi para ahli marketing begitu detail, panjang dan komprehensif. Akan tetapi definisi marketing dapat dirangkum menjadi 3 (tiga) kata yaitu; satisfy, needs, profitably. Maka marketing is satisfying needs profitably, artinya bahwa pemasaran itu seuatu proses memuaskan konsumen dengan cara yang menguntungkan sehingga tercipta win-win solutions, ini mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus sama-sama diuntungkan, win bagi pihak pelanggan karena kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) pelanggan terpenuhi, dan win bagi pihak perusahaan karena produknya di minati dan dibeli pelanggan, sehingga berimplikasi perusahaan mendapat keberkahan dalam bentuk keuntungan (laba).

Oleh karena itu arti penting marketing di masa genting Pandemi Covid 19 ini adalah bagi para pelaku usaha (perusahaan) tidak sekedar menawarkan produk yang hanya memenuhi kebutuhn (needs) saja tapi juga harus memperhatikan keinginan (wants), dan harapan (expectations) pelangan yang di dalamnya terdapat selera sesuai dengan karakteristiknya sehingga produk yang ditawarkan perusahaan di masa Pandemi Covid 19 ini juga tersegmentasi artinya disesuaikan dengan segmen pasarnya. Jika pihak perusahaan di masa Pandemi Covid 19 ini tidak menyesuaikan dengan kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectations) pelanggan, maka ini berdampak pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction)yang menurun, bahkan di masa yang akan datang terutama jika masa Pandemi Covid 19 ini sudah berakhir berdampak pada loyalitas pelangan (customer loyalty)juga menurun.

Ada satu hal yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh pihak perusahaan ketika menawarkan produk di masa Pandemi Covid 19 ini, terutama produk yang beraitan dengan penangkalan dan pemutusan rantai Covid 19 adalah masyarakat di masa genting Pandemi Covid 19 ini mereka membeli produk bukan berdasarkan selera, hoby, kesukaan, tapi keterpaksaan karena butuh sehat, butuh sembuh, butuh aman, sehingga produk tersebut menjadi tidak elastis terhadap harga. Oleh karena itu perlu hati-hati dan tidak membabibuta dalam membuat dan menawarkan produk dimasa genting Pandemi Covid 19 ini, karena akan tersimpan mindsetnya di benak pelanggan sehingga di masa yang akan datang akan berdampak pada keterujian loyalitas pelanggan. Perlu kita ingat bahwa pelanggan adalah raja (customer is the riil boss).

BACA JUGA   Berikut Pesan Plt Kadis Kominfosan Dihari Kedua Pelatihan Jurnalis

Perusahaan ada karena ada pelangggan, pegawai atau karyawan dapat upah/gaji karena ada pelanggan, dan pengusaha mendapat keuntungan (laba) karena ada pelanggan. Oleh karena itu ada perbedaan yang sangat signifikan antara marketing (pemasaran)dengan selling (penjualan). Kalau pemasaran berorientasi kepada pelanggan (customer oriented).

Hal itu mengandung arti bahwa seorang marketer sejati ketika mau menawarkan produk perusahaan tidak langsung serta-merta menawarkan produk apalagi kalau memaksa pelanggan untuk membelinya, akan tetapi langkah awal yang dilakukan oleh seorang marketer yaitu melihat dan mengidentifikasi kebutuhan (needs), keinginan (wants), harapan (expectations), karakteristik dan permintaan pelanggan sehingga produk yang akan di tawarkan benar-benar sesuai dengan permintaan pelanggan. Oleh karenanya orang marketing bekerja bisa jadi jauh sebelum produk perusahaan ada dibuat atau diproduksi. Sedangkan salles (penjualan) berorientasi kepada perusahaan (company oriented).

Hal itu mengandung arti bahwa seorang sallesmen (penjual) berorientasi kepada perusahaan mengejar target penjualan tidak kepada pelanggan. Ketika menawarkan produk tidak memperhatikan kebutuhan (needs), keinginan (wants), harapan (expectations), karakteristik, dan permintaanpelanggan, akan tetapi dengan berbagai cara pelanggan itu dipaksa untuk membeli produk perusahaan, yang pada akhirnya pelanggan mau membeli bukan karena loyal tapi terpaksa tidak enak sama penjualnya.

Oleh karena itu sangat penting pemahaman marketing khususnya di masa genting Pandemi Covid 19 ini. Gunakanlah konsep marketing, jangan konsep penjualan agar produk yang dijual sesuai dengan kebutuhan, keinginan, dan harapan pasar sasaran, sehingga harapannya pelanggan puas berimplikasi pada loyalitas pelanggan di masa yang akan datang (long term) berlanjut terus ketika Pandemi Covid 19 ini berakhir. (Udin Ahidin-Unpam).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button