EDUKASI

Prinsip-Prinsip Jurnalistik

Catatan Pinggir bang Zt.20

Media Kontroversi – Prinsip Jurnalistik adalah asas kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya atau dasar jurnalisme yang menjadi pedoman wartawan atau media dalam bekerja.

Prinsip jurnalistik merupakan pedoman etis para wartawan yang berlaku universal. Prinsip-prinsip ini lalu dituangkan dalam kode etik jurnalistik yang dirumuskan dan ditetapkan masing-masing organisasi profesi wartawan. Di Indonesia, prinsip jurnalistik berupa kode etik ditetapkan oleh Dewan Pers.

Prinsip jurnalistik dikemukakan para ahli, akademisi, dan praktisi. Terpopuler adalah prinsip jurnalistik yang dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam rumusan “Elemen Jurnalisme” (The Element of Journalism) dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers, 2001).

Kovach, wartawan Amerika kelahiran Tennessee 1932, dan Tom Rosenstiel mengemukakan sembilan pinsip jurnalistik sebagai tanggung jawab mendasar para jurnalis, standar kerja jurnalis, dan peran pers bebas dalam demokrasi. Adapun sembilan prinsip jurnalistik tersebut adalah seagai berukut :
1. Menegakknan Kebenaran.
Kebenaran dalam setiap karya jurnalistik yang akan dipublikasikan itu haruslah berdasarkan fakta dan data, atau peristiwa yang sebenarnya. Sebagai seorang Wartawan itu tidak boleh memanipulasinya, tidak boleh melakukan framing, atau melaporkan hal yang bertolak belakang dengan fakta dan data yang ada.

2. Loyalitas Pengabdian.
Seorang Wartawan mengabdi kepada publik atau pembacanya. Benar, ia bekerja kepada perusahaan media yang punya kepentingan tersendiri, namun tugas utamanya adalah melayani publik, memenuhi rasa ingin tahu publik, dan memberi informasi yang sebenarnya kepada pembaca atau pemirsa.

3. Verifikasi.
Disiplin verifikasi adalah hakikat jurnalistik yang membedakannya dari isu, gosip, rumor, atau desas-desus. Wartawan harus melakukan cek dan ricek, konfirmasi, memastikan kebenaran sebuah peristiwa. Verifikasi pula yang menghindarkan wartawan menyebarkan pemberitaan palsu atau hoax.

BACA JUGA   Goresan Tinta Sang Jurnalis

Wartawan tidak boleh menambah atau mengarang apapun. Jangan menipu atau menyesatkan pembaca. Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin.

4. Independensi.
Wartawan harus bersikap independen, bebas dari kecenderungan apa pun terhadap objek pemberitaan.Dalam konteks ini, wartawan boleh mencampurkan opini dan fakta. Ia hanya mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini dn tidak dalam berita.

5. Pemantau Kekuasaan.
Dalam UU Pers disebutkan fungsi pers sebagai pengawas sosial (social control). Wartawan menjadi watchdog yang mengkeritisi kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat.

6. Forum Publik.
Wartawan, dengan pemberitaannya, membuka ruang bagi pembaca untuk berkomentar, memperkaya informasi, menyampaikan hak jawab, atau bahkan koreksi.

7. Menarik dan relevan.
Wartawan bertugas membuat berita agar menarik perhatian dan relevan dengan kepentingan dan kebutuhan publik.

8. Komprehensif.
Pemberitaan harus menyeluruh, meliputi semua unsur berita 5W+1H sehingga tidak menyisakan tanya. – Ada bentrokan, misalnya, harus dijelaskan kenapa bentrokan terjadi, apa penyebabnya, siapa pelaku bentrokan, di mana, kapan, bagaimana prosesnya.

9. Hati Nurani.
Wartawan diizinkan mendengarkan atau mengikuti hati nurani yang tidak bisa dibohongi atau takkan bohong. Wartawan punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial.

Wartawan yang bekerja di media propaganda, di media yang dikendalikan kelompok kepentingan tertentu, seringkali harus mengabaikan hati nuraninya. Ia tersiksa, kecuali memang “seideologi” dengan pemilik kepentingan.

Update:
Dalam edisi selanjutnya, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menambahkan elemen jurnalisme ke-10, yaitu:

10. Warga juga memiliki hak dan tanggung jawab dalam hal-hal yang terkait dengan berita.

Elemen ke-10 ini muncul dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya internet. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri dengan munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas (community journalism) dan media alternatif. Warga dapat menyumbangkan pemikiran, opini, berita, dan sebagainya, dan dengan demikian juga mendorong perkembangan jurnalisme.

BACA JUGA   ETIKA JURNALISTIK

Menurut Ethical Journalism Network, ada lima prinsip inti (five core principle of journalism), yakni :

1. Kebenaran dan Akurasi (Truth and Accuracy)
Jurnalis tidak selalu bisa menjamin ‘kebenaran’, tetapi mendapatkan fakta dengan benar adalah prinsip utama jurnalisme. – Juranlis harus selalu berusaha untuk akurasi, memberikan semua fakta yang relevan yang dimiliki, dan memastikan bahwa fakta-fakta itu telah diperiksa. Dikala tidak bisa membenarkan informasi, kita harus mengatakannya apa adanya.

2. Kemandirian (Independence)
Jurnalis harus suara independen; tidak boleh bertindak, secara formal atau tidak resmi, atas nama kepentingan khusus baik politik, perusahaan atau budaya. – Kita harus menyatakan kepada editor – atau audiensi – afiliasi politik kita, pengaturan keuangan atau informasi pribadi lainnya yang mungkin merupakan konflik kepentingan.

3. Keadilan dan Ketidakberpihakan (Fairnees and Impartiality)
Sebagian besar cerita memiliki setidaknya dua sisi. Meskipun tidak ada kewajiban untuk menyajikan setiap sisi dalam setiap bagian, cerita harus seimbang (balance) dan menambah konteks. – Objektivitas tidak selalu mungkin, dan mungkin tidak selalu diinginkan (dalam menghadapi misalnya kebrutalan atau tidak manusiawi), tetapi pelaporan yang tidak memihak membangun kepercayaan dan kepercayaan diri.

4. Kemanusiaan (Humanity)
Wartawan seharusnya tidak membahayakan. Apa yang kami publikasikan atau tayangkan mungkin menyakitkan, tetapi kita harus waspada terhadap dampak kata-kata dan gambar kita pada kehidupan orang lain.

5. Akuntabilitas (Accountability)
Tanda profesionalisme dan jurnalisme yang bertanggung jawab adalah kemampuan untuk membuat diri kita bertanggung jawab. Ketika kita melakukan kesalahan, kita harus memperbaikinya dan ekspresi penyesalan kita harus tulus, tidak sinis.
Kita mendengarkan keprihatinan audiens. Kita mungkin tidak mengubah apa yang ditulis atau dikatakan pembaca, tetapi kita akan selalu memberikan solusi ketika kita tidak adil. (-zt.20)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button