OPINI

Kreativitas Dan Inovasi Mahasiswa Di Tengah Pandemi Covid 19

Oleh Rima Handayani,S.E., M.Si., CHRA
Dosen Manajemen, Universitas Pamulang

Media Kontroversi Kreatif dan inovatif merupakan dua unsur yang berkaitan dan berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang. Kreativitas dan inovasi bukan hal yang baru lagi bagi Dr. Andrei Aleinikov, seorang pakar dunia di bidang kreativitas dan inovasi yang telah menulis sekitar 100 buku dan artikel. Aleinikov membahas mengenai lima tingkatan dalam inovasi (yang disebut novology) dalam bukunya yang berjudul Mega Creativity. Kelima tingkatan tersebut adalah: existential, communicational, instrumental, orientational, dan innovational. Existential merupakan tingkatan yang paling dalam diantara kelimanya. Sementara innovational merupakan tingkatan paling luar yang paling mudah diamati. Tidak hanya untuk mengukur kreativitas saja, kelima tingkatan menurut Aleinkov ini dapat berlaku untuk semua bidang dalam sisi kehidupan manusia.

Kreativitas merupakan naluri yang sudah dimiliki manusia sejak lahir. Akan tetapi, kreativitas tidak dapat berkembang dengan sendirinya. Rangsangan dari lingkungan akan sangat berpengaruh untuk menumbuhkan kreativitas. Kreatif dimulai dari berpikir untuk menemukan ide. Ide tersebut bisa jadi merupakan ide yang sederhana, akan tetapi efektif untuk memecahkan suatu masalah. Kreatif merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘inovasi’ memiliki arti penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovatif merupakan kata untuk menyifati inovasi itu sendiri, artinya, suatu karya hasil inovasi akan disebut sebagai karya yang inovatif. Inovasi bermanfaat untuk menyempurnakan atau pun meningkatkan fungsi dari pemanfaatan suatu produk atau sumber daya.

Pandemi virus corona Covid-19 telah membuat hampir seluruh kampus close down sejak pertengahan Maret 2020. Baru kali ini kampus benar-benar menghadapi ketidakpastian. Kondisi ini membuat insan kampus berpikir keras untuk bisa beradaptasi dengan ketidakpastian (uncertainty). Mahasiswa juga dituntut agar dapat beradaptasi dalam kuliah gaya baru yaitu dengan kuliah daring, mahasiswa tertantang untuk lebih banyak belajar sendiri, inovasi untuk adaptasi dimana mahasiswa diharapkan dapat memunculkan gagasan inovasi baru pemberi solusi, baik inovasi untuk adaptasi maupun inovasi dan adaptasi perubahan perilaku hidup sehat yang memang harus benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA   Memaknai Pancasila Ditengah Pandemi Covid-19

Untuk menangani kondisi darurat ketidakpastian seperti ini pemerintah memberlakukan peraturan yang mengharuskan setiap orang untuk tetap berada di rumah saja. Peraturan yang dibuat berisikan beberapa hal, mulai dari menerapkan physical distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), himbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah saja, bahkan hingga himbauan untuk tidak mudik di tengah pandemi Covid-19 ini. Jika mencoba untuk memaknai kondisi ini secara positif, physical distancing sebenarnya dapat dianggap sebagai sebuah kesempatan untuk melatih keterampilan yang ingin dikuasai, serta untuk mengembangkan hobi.

Mahasiswa selain disibukkan dengan kuliah daring yang dapat menumbuhkan kemandirian dalam belajar sendiri, tentunya dapat pula menggali kreativitas dan inovasi mahasiswa. Seperti kreatifitas beberapa mahasiswa mengisi waktu senggangnya dengan mendaftar sebagai relawan digital covid-19, yang bertugas memverifikasi data yang masuk dari Dinas Kesehatan (Dinkes), lalu dikomunikasikan kepada Dinkes dan Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informasi) lalu data di publish. Selain itu dengan semakin banyaknya platform sosial media yang tersedia, seperti youtube, twitter, instagram juga tiktok sehingga hasil karya dari kreativitas mahasiswa tentunya dapat dibagikan secara luas dan dinikmati oleh orang banyak sehingga dapat memberikan dampak positif di tengah pandemi covid-19 ini. Diibaratkan walaupun manusia sekarang ini terpisah secara fisik, tetapi mereka semua terhubung dalam sosial media. Untuk memacu kreativitas mahasiswa, beberapa kampus mengadakan kegiatan melalui lomba-lomba seperti membuat poster, esai , video hingga kreasi cyber learning, dalam lomba tersebut pihak kampus memberikan hadiah bagi pemenangnya dengan demikian diharapkan semakin meningkatkan kreatifitas mahasiswa di tengah pandemi covid-19 ini.

Bukan hanya kreatifitas saja tetapi mahasiswa juga melalui adaptasi inovasi, mereka harus memunculkan gagasan inovasi baru pemberi solusi. Beberapa inovasi yang telah dilakukan mahasiswa di tengah pandemi covid-19 ini seperti ditemukannya Automatic Nano Sterilizer dengan Automatic Nano Handwash dan Automatic Nano Cabin Healing yang berfungsi meningkatkan imun tubuh manusia dan pengobatan penyakit pada paru-paru. Beberapa penyakit yang bisa diatasi dengan adanya alat tersebut di antaranya penyakit yang berhubungan dengan paru-paru, Asma, TBC, bronchitis, ISPA, dan tentunya COVID-19. Ditemukan pula Bilik Disinfeksi berbasis ultraviolet untuk mencegah transmisi virus Covid-19. Dan masih banyak inovasi lain yang dilakukan mahasiswa sebagai wujud peduli terhadap kesehatan masyarakat di tengah pandemi covid-19.

BACA JUGA   PENTINGNYA CUSTOMER VALUE DI MASA PANDEMI COVID 19

Masa-masa seperti inilah mahasiswa sebagai pembelajar yang tangguh untuk merespon setiap ketidakpastian baru, hadir dengan berbagai solusi serta kreatifitas dan inovasinya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Tidak perlu menghasilkan maha karya besar yang sanggup membawa perubahan besar, namun justru karya sederhana yang kreatif dan inovatif, yang mampu menginspirasi serta dibutuhkan banyak orang. Dengan kreativitas dan inovasi inilah, mahasiswa untuk menjadi berguna bagi orang lain akan terealisasi. Ketidakpastian bisa datang kapan saja, respons cepat untuk beradaptasi menjadi kunci untuk bisa mengatakan “covid-19 pasti akan berlalu.” (red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button