EKONOMI

Perang Melawan Covid-19 Bisnis Sewa Kamar Kost Tak Goyah

Oleh: H. Hastono
Entrepreneur dan Dosen Manajemen Pemasaran Universitas Pamulang

Sejak mulai merebaknya Covid-19 di Indonesia usaha Jasa perhotelan beserta varian layanannya saat ini luluh lantak dihantam oleh makhluk terkecil Allah yang walaupun ukurannya hanya sebesar 0,4 – 0,5 micrometer, tetapi gagah berani mampu merangsek, menghantam siapapun yang ditemuinya tanpa ampun dan tanpa pandang bulu dari penguasa sampai rakyat jelata.

Penulis adalah pemilik kost “Kennu Rumah Kost” Yogjakarta yang saat ini berprofesi sebagai dosen di Universitas Pamulang (UNPAM) setelah pensiun dari sebuah kantor BUMN di Jakarta awalnya was-was juga. Sebagian besar Mahasiswa pengekost pulang kampung karena kampus Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) menerapkan studi jarak jauh, mengakibatkan kantin yang dikelola penjaga kost gembos sampai dengan 80% pendapatannya!

Tetapi bisnis utamanya ternyata tidak terdampak, lho kok bisa? Iya.. karena saya menerapkan bayar sewa kost setahun didepan (shifting to the front) periode September tahun lalu sampai Agustus tahun ini, kenapa tidak bulanan atau tiga bulanan? Repot! …sebab saya tinggal di Tangerang selatan secara phisik tidak mungkin bolak-balik ke yogja tiap bulan hanya untuk menagih sewa bulanan, ditambah pula karakter mahasiswa ( pengalaman pribadi hehe) ngeles kalau sudah jatuh tempo dengan berbagai alasan.

Strategi pemasarannya sebenarnya sangat simple yaitu hanya melalui google selain konvensional (kunjungan), kamar kost mulai saya pasarkan sekitar bulan April selepas pengumuman kelulusan SMA sampai bulan Agustus dibandrol dengan 9,5 juta / tahun, ini sebenarnya sudah termasuk sewa kost termahal di seputaran kampus UTY dibanding dengan yang lain yang membandrol 6-7 juta/ tahunnya, mahal kok laku? Itu banyak dipertanyakan orang.

Jujur saya adopsi dari strateginya Hard rock café yang memposisioningkan diri tidak sekedar warung kopi atau magnum café tidak sekedar warung es bisa berjualan dengan “harga tinggi” tetapi “laku”. key word nya ternyata Differentiation, membedakan produk/layanannya dengan produk/layanan substitusi pesaing. Kepikiran di kebanyakan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) kalau ingin laku murahin saja! ternyata Sama kepikiran juga dengan istri saya diawal-awal usaha, tidak buat saya, kapan mau break even point? Kapan mau mengembangkan usaha, kapan mau besar?

BACA JUGA   Walikota Helmi Ajak Masyarakat Sukseskan Gerakan Ayo Menanam

Diawal usaha pada tahun 2012 dengan menerapkan sewa bulanan “murah”, 30 kamar penuh, namun dipertengahan tahun mahasiswa mulai pindah satu persatu disebabkan mereka lebih menyukai menyewa 1 rumah secara berkelompok yang harganya lebih murah dan bebas.

Cukup setahun menerapkan strategi “murah dan laku” namun ternya tidak mampu mempertahankan occupancy kamar kost secara full satu tahun, di tahun berikutnya saya terapkan jual “mahal dan laku” walapun diawal semesteran, istri sedikit ragu namun strategi nyontek sekelas hard rock café ternyata benar adanya, occupancy kamar Kennu Rumah Kost tetap selama satu tahun.

Defferensinya seperti apa sih ? pertama jika pesaing saya menerapkan sewa “kost kosongan” yang terkesan murah artinya fasilitas ikutan listrik, kasur, lemari, meja belajar, kipas angin,televisi, keamanan kost tanggung pengekost sendiri. “Kennu rumah Kost” full fasilitas ibaratnya mahasiswa tinggal bawa tas saja, dengan lingkungan yang asri dan berpager serta ditambah Wi-fi dan CCTV mahasiswa maupun Orang tuanya tersasa nyaman dan tidak was-was. Kedua dengan biaya pertahun 9,5 juta pengekost sudah tidak dikenai segala pungutan termasuk biaya listrik, wi-fi saya bonding dengan biaya sewa kost setahun, kata “gratis” yang merasuk dibenak konsumen termasuk salah satu indicator Price mix dalam marketing mix, padahal ya tidak demikian konsumen tetap bayar.

Ketiga pengekost bebas untuk memasak sendiri di dapur kantin sesuai yang diingankan yang terkadang bosen dengan makanan kantin dan juga memang lagi bener bener bokek belum ada kiriman dari orang tuanya tanpa harus bayar gas.
Dalam pemasaran saya melihat ada dua tipe calon pengekost pertama “target market” dan kedua “target audience” seperti juga produk susu formula untuk bayi dalam pemasaranya “target marketnya adalah bayi” dan “target audiennya ibu-ibu”, demikian juga di kennu rumah kost jika yang berkunjung hanya calon mahasiswa dan temannya success probability 30%” jadi ngekos, 70% batal karena “mahal”, namun jika yang berkunjung orang tua dan calon mahasiswa succsess probability 70% jadi, 30% batal ngekos dengan pemikiran yang pentingnya anaknya aman dan nyaman dikota yang jauh dari orang tua.

BACA JUGA   Empat Orang PDP Tolitoli Di karantina

Dalam “hukum supply dan demand”, jika di pasar demand lebih besar ketimbang supply berarti harga dipasar dipastikan mahal, demikian sebaliknya jika supply yang lebih besar daripada demand maka harga akan rendah. Yang terjadi di sekitaran kampus UTY Demand lebih besar dari supply nya, dalam hal ini saya menerapkan sebuah “contra teory” saya tidak begitu perlu costomer loyality. Karena yang mencari kamar kost lebih banyak ketimbang jumlah kost yang ada di sekitaran kampus UTY.

Namun, walaupun bisnis kost saya tidak begitu terdampak, saya selalu berdoa semoga pandemic covid-19 segera berakhir, agar kehidupan manusia dan roda ekonomi secara nasional dan dunia berjalan normal seperti sedia kala aamiin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button